Seperti halnya negara barat, agama Islam sangat dijauhi oleh warganya akibat stigma teroris yang di alamatkan pada agama terakhir ini. Tapi di Australia warga mulai ramai masuk agama Islam.
Dalam sebuah acara barbecue halal di Lismore, kota pedalaman di New South Wales, Australia, sejumlah warga Muslim setempat berbagi pengalaman mengenai kehidupan sebagai orang Islam di daerah itu.
Amber Rashidi
Amber masuk Islam delapan tahun silam setelah bertemu dengan seorang pria muslim. "Kami mulai serius dan saya pun ingin tahu agama yang dia anut serta apa yang saya juga percayai. Saya jatuh cinta pada Islam dan keindahan dalam agama ini," katanya.
"Saya mengalami diskriminasi hampir setiap hari, tapi saya tidak mau menanggapinya sebab saya sudah bahagia dengan diri saya dan tahu bahwa orang itu hanya tidak mengerti tentang Islam yang sebenarnya," tuturnya.
"Saya menjadi sasaran karena pakaian yang saya kenakan sangat menonjol. Kami pun sangat berhati-hati memilih tujuan jika ingin berpergian di Australia," katanya.
Amber mencontohkan dia misalnya lebih memilih ke kebun raya karena percaya bahwa orang yang menghargai wangi bebungaan tentunya tidak akan mempersoalkan pakaian yang dikenakan Amber.
"Jika anda pergi ke tempat yang dipenuhi orang minum-minum, kemungkinan ada yang akan mengata-ngatai anda. Makanya harus memperhatikan pakaian yang dikenakan serta anak-anak yang mungkin akan mempengaruhi," katanya.
Menurut Amber, ibunya Vikki Crook, telah menjadi seorang penganut Kristiani yang taat bersamaan saat Amber menjadi seorang muslimah.
"Ibuku luar biasa dan sangat menerima saya. Dia pun menemukan Tuhan, dan saya pun menemukan Tuhan, dan kami suka berdiskusi tentang Tuhan," tuturnya.
Abdul Aziz
Abdul Aziz, ketua Asosiasi Muslim Northern Rivers, berasal dari Dubai dan pindah ke Kota Dubbo tahun 2005. Aziz datang ke Australia dengan visa kerja profesional (Visa 457) sebagai insinyur elektro. Kini dia punya bisnis sendiri di Lismore.
"Saya sangat cinta kota ini karena keberagaman, berwarna-warni, dan masyarakatnya lebih toleran," tuturnya.
"Diskriminasi sebenarnya terjadi dimana saja. Saya mengalaminya saat lahir di Pakistan. Begitu pula saya tinggal di Dubai," katanya.
Aziz selalu berharap bisa menunjukkan Islam yang sebenarnya kepada warga sekitarnya.
"Saya berharap media bisa menunjukkan sisi baik dari masyarakat Islam. Memang pasti ada domba hitam di antara domba-domba yang putih," katanya.
Abbey Hodson
Abbey Hodson masuk Islam empat tahun lalu setelah melakukan pencarian makna hidup dan jatidirinya. "Saya sebelumnya termasuk yang tidak suka dengan agama dan setiap ketemu orang Islam selalu ada resistensi dalam diri saya, misalnya jangan bicara konsep setan dan malaikat dengan saya atau konsep lainya yang membuat saya tidak nyaman," tuturnya.
"Saya merenung dan berpikir, saya tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan orang lain jika saya tidak mau membuka diri dan menantang diri sendiri. Ini proses yang panjang dan lamban," kata Abbey.
"Mungkin saya mencari makna hidup saya sendiri dan sampai saat itu saya belum menemukannya," ujarnya. "Saya menemukan Islam menjawab banyak pertanyaan saya dan memberi tuntunan mengenai kehidupan sehari-hari.
"Umumnya orang mendekati saya untuk bertanya lebih jauh, dan hal ini saya suka. Kalau ada yang tatapannya jelek, saya hanya menduga bahwa karena saya orang kulit putih. Orang punya pikiran berbeda-beda.
Dalam sebuah acara barbecue halal di Lismore, kota pedalaman di New South Wales, Australia, sejumlah warga Muslim setempat berbagi pengalaman mengenai kehidupan sebagai orang Islam di daerah itu.
Amber Rashidi
Amber masuk Islam delapan tahun silam setelah bertemu dengan seorang pria muslim. "Kami mulai serius dan saya pun ingin tahu agama yang dia anut serta apa yang saya juga percayai. Saya jatuh cinta pada Islam dan keindahan dalam agama ini," katanya.
"Saya mengalami diskriminasi hampir setiap hari, tapi saya tidak mau menanggapinya sebab saya sudah bahagia dengan diri saya dan tahu bahwa orang itu hanya tidak mengerti tentang Islam yang sebenarnya," tuturnya.
"Saya menjadi sasaran karena pakaian yang saya kenakan sangat menonjol. Kami pun sangat berhati-hati memilih tujuan jika ingin berpergian di Australia," katanya.
Amber mencontohkan dia misalnya lebih memilih ke kebun raya karena percaya bahwa orang yang menghargai wangi bebungaan tentunya tidak akan mempersoalkan pakaian yang dikenakan Amber.
"Jika anda pergi ke tempat yang dipenuhi orang minum-minum, kemungkinan ada yang akan mengata-ngatai anda. Makanya harus memperhatikan pakaian yang dikenakan serta anak-anak yang mungkin akan mempengaruhi," katanya.
Menurut Amber, ibunya Vikki Crook, telah menjadi seorang penganut Kristiani yang taat bersamaan saat Amber menjadi seorang muslimah.
"Ibuku luar biasa dan sangat menerima saya. Dia pun menemukan Tuhan, dan saya pun menemukan Tuhan, dan kami suka berdiskusi tentang Tuhan," tuturnya.
Abdul Aziz
Abdul Aziz, ketua Asosiasi Muslim Northern Rivers, berasal dari Dubai dan pindah ke Kota Dubbo tahun 2005. Aziz datang ke Australia dengan visa kerja profesional (Visa 457) sebagai insinyur elektro. Kini dia punya bisnis sendiri di Lismore.
"Saya sangat cinta kota ini karena keberagaman, berwarna-warni, dan masyarakatnya lebih toleran," tuturnya.
"Diskriminasi sebenarnya terjadi dimana saja. Saya mengalaminya saat lahir di Pakistan. Begitu pula saya tinggal di Dubai," katanya.
Aziz selalu berharap bisa menunjukkan Islam yang sebenarnya kepada warga sekitarnya.
"Saya berharap media bisa menunjukkan sisi baik dari masyarakat Islam. Memang pasti ada domba hitam di antara domba-domba yang putih," katanya.
Abbey Hodson
Abbey Hodson masuk Islam empat tahun lalu setelah melakukan pencarian makna hidup dan jatidirinya. "Saya sebelumnya termasuk yang tidak suka dengan agama dan setiap ketemu orang Islam selalu ada resistensi dalam diri saya, misalnya jangan bicara konsep setan dan malaikat dengan saya atau konsep lainya yang membuat saya tidak nyaman," tuturnya.
"Saya merenung dan berpikir, saya tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan orang lain jika saya tidak mau membuka diri dan menantang diri sendiri. Ini proses yang panjang dan lamban," kata Abbey.
"Mungkin saya mencari makna hidup saya sendiri dan sampai saat itu saya belum menemukannya," ujarnya. "Saya menemukan Islam menjawab banyak pertanyaan saya dan memberi tuntunan mengenai kehidupan sehari-hari.
"Umumnya orang mendekati saya untuk bertanya lebih jauh, dan hal ini saya suka. Kalau ada yang tatapannya jelek, saya hanya menduga bahwa karena saya orang kulit putih. Orang punya pikiran berbeda-beda.
Subhanallah, Warga Australia Ramai Masuk Islam
Reviewed by Unknown
on
10:44 AM
Rating:
Reviewed by Unknown
on
10:44 AM
Rating:

No comments: